Wednesday, May 27, 2015

Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu di Sulawesi Tenggara Hp. 0852.6435.6110 dan 0852.1079.2168


Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu di Sulawesi Tenggara Pendahuluan Sulawesi Tenggara sebagai salah satu provinsi kepulauan yang potensial untuk mengembangkan komoditas ikan bernilai ekonmis tinggi. Ikan Kerapu merupakan jenis ikan domersal yang suka hidup di perarian karang atau gua gua di dasar perairan. Ikan karnivor yang tergolong aktif ini relative mudah dibudidayakan karena memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi Jenis ikan kerapu yang telah dibudidayakan di Sulawesi Tenggara, ada 3 Jenis yaitu : Kerapu Tikus, Macan dan Lumpur karena sudah tersedia dan dikuasai teknologinya. Adaptasi teknologi budidaya merupakan peluang pasar yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan pada daerah potensial di Sulawesi Tenggara Lokasi Potensial Keberhasilan usaha budidaya ikan kerapu diawali oleh kemampuan menentukan lokasi budidaya yang tepat sesuai sifat biologi ikan kerapu. Secara umum seluruh perairan pada gugusan pulau – pulau di Sulawesi Tenggara berpotensi untuk pengembangan budidaya ikan kerapu. Akan tetapi dari 14 kabupaten/kota, Sampai saat ini baru 7 kabupaten/kota yang telah melakukan usaha budidaya ikan kerapu, dengan pola budidaya yang masih tradisional Kabupaten / Kota yang telah mengembangkan usaha budidaya ikan kerapu adalah kabupaten Muna, Kolaka, Buton, Konawe, Konawe Selatan dan Kota Kendari. Pemerintah Kabupaten/Kota maupun Pemerintah Sulawesi Tenggara harus terus mendukung segala upaya dalam mengembangkan luasan areal budidaya dan pemberdayaan kelompok usaha produktif melalui pengembangan usaha ramah lingkungan Fasilitas Pendukung Ketertarikan para pelaku usaha untuk mengembangkan usaha budidaya ikan kerapu di Keramba Jaring Apung karena tersedianya faktor pendukung baik yang disediakan oleh pemerintah daerah setempat maupunyang dipenuhi secara swadaya masyarakat Dibeberapa Kabupaten/Kota yang potensial, pengembangan budidaya ikan kerapu di Keramba Jaring Apung, melalui kebijakan pemerintah daerah setempat memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha budidaya, berupa : 1. Kemudahan pengurusan administrasi perizinan usaha 2. Memfasilitasi para pelaku usaha untuk menjalin kemitraan usaha dengan pihak perbankan 3. Keringanan pajak usaha dan pajak penghasilan bagi para pelaku usaha Ketersediaan Benih Ketersediaan benih dan kemudahan memperolehnya merupakan faktor terpenting dalam budidaya ikan kerapu. Bibit yang digunakan untuk pembesaran di KJA saat ini adalah bibit yang didatangkan dari daerah lain seperti Bali, Takalar, Situbondo dan daerah lain yang memiliki unit perbenihan yang telah disertifikasi Penggunaan bibit bersertifikat dalam kegiatan budidaya sejalan dengan program pemerintah dalam upaya mendukung program peningkatan produksi, dengan mengembangkan pola usaha budidaya sehat dan ramah lingkungan Metode Budidaya Budidaya ikan kerapu dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya pemeliharaan dalam Keramba Jaring apung (KJA) maupun dengan metode Keramba Jaring Tanxap (KJT). Masing masing metode mempunyai keunggulan masing masing Dibeberapa daerah kabupaten/kota yang palingbanyak ditemui adalah pemeliharaan ikan kerapu dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Metode ini menurut para pelaku usaha terbukti lebih efektif dan efisien. Namun demikian nilai investasi untuk pemeliharaan ikan kerapu dengan sistem KJA memang relative sangat besar. Apalagi dengan perkembangan teknologi dewasa ini, kebanyakan para pembudaya sudah menggunakan teknologi Keramba HDPE Pengggunaan teknologi budidaya dengan keramba HDPE di Provinsi Sulawesi Tenggara memanng masih terbatas pada kalangan masyarakat dengan tingkat kepemilikan modal menengah ke atas. Sedangkan bagi para pembudidaya yang memiliki modal kecil umumnya masih menggunakan keramba berbahan dasar kayu Untuk mencapai ukuran konsumsi, proses budidaya yang dilakukan 8 – 10 bulan. Dalam waktu pemeliharaan tersebut ukuran ikan kerapu biasanya akan mencapai 600 ‐ 1000 gram Hama dan Penyakit Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA adalah ikan buntal, burung dan penyu. Sedangkan jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) Penyakit akibat serangan parasite seperti : parasite crustacean dan flatworm (b) Penyakit akibat protozoa seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis (c) Penyakit akibat jamur (fungi) seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis (d) Penyakit akibat serangan bakteri (e) Penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus) Sumber : Dinas kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Tenggara

No comments:

Post a Comment