Sunday, June 21, 2015

Teknologi dan Pembenihan Ikan Kakap Putih Hp. 0852.6435.6110 dan 0852.1079.2168

Teknologi dan Pembenihan Ikan Kakap Putih Pendahuluan Kakap Putih atau disebut Lates calcarifer merupakan salah satu komoditas perikanan laut yang bernilai ekonomis tinggi, memiliki segmen pasar yang luas dan produksi relative stabil. Balai Budidaya laut batam sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementrian Kelautan dan Perikanan, memiliki tugas dan tanggung jawab besar untuk mengembangkan teknologi budidaya Kakap Putih serta menyebar luaskannya kepada masyarakat Metode Pembenihan a. Pengelolaan Induk Induk Kakap Putih harus memenuhi syarat sebagai ikan yang benar benar sehat, lengkap dan tidak cacat dengan ukuran jantan 1 sampai 2 kg per ekor dan betina 2.5 sampai 6 kg. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar dengan kandungan lemak rendah seperti jenis ikan selar dan Tanjan dengan dosis pemberian pakan 2 sampai 5 persen dari berat total calon induk per hari b. Induk Tingkat Kematangan Gonad induk Betina dapat diketahui dengan metode kanulasi menggunakan selang plastic atau kanula yang berdiameter 1,2 mm sedangkan untuk induk jantan dengan metode stripping yaitu dengan cara mengurut bagian perut menuju kea rah genital. Induk jantan yang matang, gonad akan mengeluarkan sperma berwarna putih susu dan kental c. Pemijahan Wadah pemijahan yang digunakan bias di Keramba Jaring Apung atau di bak terkontrol. Pemijahan rangsang hormon dengan menggunakan LH Rha atau Leutenizing Releasing Hormon dengan dosis 0.5mg per kg berat induk, yang diinjeksikan pada induk jantan dan betina dibagian bawah sirip pungggung. Secara normal induk akan memijah setelah 12 sampai 38 jam setelah penyuntikkan d. Penanganan Telur Telur yang dibuahi berwarna bening transparan dan mengapung di permukaan air berdiameter 0,6 sampai 0,8 mm yang ditampung dalam egg collector. Penetasan telur dapat dilakukan pada bak inkubasi maupun langsung pada bak pemeliharaan larva e. Manajemen Pemeliharaan Lava Larva Kakap Putih dipelihara dalam bak yang telah bersih, bebas penyakit dan parasite dengan padat tebar awal larva adalah 10 sampai 15 ekor per liter f. Pendederan : Padat penebaran benih Ikan Kakap Putih : Pada masa pendederan pergantian air dilakukan selama 24 jam sebesar 500 persen. Gradding atau pemilahan ukuran benih dilakukan setiap 5 sampai 7 hari sekali untuk memperkecil kanibalisme g. Kultur Pakan Alami Kultur Phytoplankton dimulai skala laboratorium, kemudian skala semi massal dan massal. Spesies yang dikultur berupa Nannochloropsis sp atau Tetraselmis sp. Pupuk yang digunakan Urea : ZA : TSP : EDTA dengan perbandingan 5 : 5 : 1 : 1 Kultur Zooplankton massal secara bertahap yaitu sepertiga dari kapasitas bak dimasukkan benih Rotifier atau Branchionus sp dengan padat awal sepuluh individu per mili, kemudian diberikan pakan berupa Nannochloropsis spa tau Tetracelmis sp. Rotifier dipanen setelah berkembang dengan menggunakan screen net 20 mikron Sumber : Balai Perikanan Budidaya Laut Batam
Minyak Cumi Minyak Cumi Merk CUMI 168 mempunyai manfaat antara lain : 1. Merangsang nafsu makan benur, nener, udang dan ikan 2. Mempercepat pertumbuhan ikan dan udang 3. Mempersingkat lamanya pemeliharaan udang dan ikan 4. Menjaga kestabilan air dan plankton saat pergantian air 5. Menjaga kestabilan air dan plankton saat hujan terus menerus 6. Dapat digunakan sebagai campuran pembuatan pelet untuk makanan ikan, udang dll

Wednesday, May 27, 2015

Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu di Sulawesi Tenggara Hp. 0852.6435.6110 dan 0852.1079.2168


Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu di Sulawesi Tenggara Pendahuluan Sulawesi Tenggara sebagai salah satu provinsi kepulauan yang potensial untuk mengembangkan komoditas ikan bernilai ekonmis tinggi. Ikan Kerapu merupakan jenis ikan domersal yang suka hidup di perarian karang atau gua gua di dasar perairan. Ikan karnivor yang tergolong aktif ini relative mudah dibudidayakan karena memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi Jenis ikan kerapu yang telah dibudidayakan di Sulawesi Tenggara, ada 3 Jenis yaitu : Kerapu Tikus, Macan dan Lumpur karena sudah tersedia dan dikuasai teknologinya. Adaptasi teknologi budidaya merupakan peluang pasar yang cukup menjanjikan untuk dikembangkan pada daerah potensial di Sulawesi Tenggara Lokasi Potensial Keberhasilan usaha budidaya ikan kerapu diawali oleh kemampuan menentukan lokasi budidaya yang tepat sesuai sifat biologi ikan kerapu. Secara umum seluruh perairan pada gugusan pulau – pulau di Sulawesi Tenggara berpotensi untuk pengembangan budidaya ikan kerapu. Akan tetapi dari 14 kabupaten/kota, Sampai saat ini baru 7 kabupaten/kota yang telah melakukan usaha budidaya ikan kerapu, dengan pola budidaya yang masih tradisional Kabupaten / Kota yang telah mengembangkan usaha budidaya ikan kerapu adalah kabupaten Muna, Kolaka, Buton, Konawe, Konawe Selatan dan Kota Kendari. Pemerintah Kabupaten/Kota maupun Pemerintah Sulawesi Tenggara harus terus mendukung segala upaya dalam mengembangkan luasan areal budidaya dan pemberdayaan kelompok usaha produktif melalui pengembangan usaha ramah lingkungan Fasilitas Pendukung Ketertarikan para pelaku usaha untuk mengembangkan usaha budidaya ikan kerapu di Keramba Jaring Apung karena tersedianya faktor pendukung baik yang disediakan oleh pemerintah daerah setempat maupunyang dipenuhi secara swadaya masyarakat Dibeberapa Kabupaten/Kota yang potensial, pengembangan budidaya ikan kerapu di Keramba Jaring Apung, melalui kebijakan pemerintah daerah setempat memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha budidaya, berupa : 1. Kemudahan pengurusan administrasi perizinan usaha 2. Memfasilitasi para pelaku usaha untuk menjalin kemitraan usaha dengan pihak perbankan 3. Keringanan pajak usaha dan pajak penghasilan bagi para pelaku usaha Ketersediaan Benih Ketersediaan benih dan kemudahan memperolehnya merupakan faktor terpenting dalam budidaya ikan kerapu. Bibit yang digunakan untuk pembesaran di KJA saat ini adalah bibit yang didatangkan dari daerah lain seperti Bali, Takalar, Situbondo dan daerah lain yang memiliki unit perbenihan yang telah disertifikasi Penggunaan bibit bersertifikat dalam kegiatan budidaya sejalan dengan program pemerintah dalam upaya mendukung program peningkatan produksi, dengan mengembangkan pola usaha budidaya sehat dan ramah lingkungan Metode Budidaya Budidaya ikan kerapu dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya pemeliharaan dalam Keramba Jaring apung (KJA) maupun dengan metode Keramba Jaring Tanxap (KJT). Masing masing metode mempunyai keunggulan masing masing Dibeberapa daerah kabupaten/kota yang palingbanyak ditemui adalah pemeliharaan ikan kerapu dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Metode ini menurut para pelaku usaha terbukti lebih efektif dan efisien. Namun demikian nilai investasi untuk pemeliharaan ikan kerapu dengan sistem KJA memang relative sangat besar. Apalagi dengan perkembangan teknologi dewasa ini, kebanyakan para pembudaya sudah menggunakan teknologi Keramba HDPE Pengggunaan teknologi budidaya dengan keramba HDPE di Provinsi Sulawesi Tenggara memanng masih terbatas pada kalangan masyarakat dengan tingkat kepemilikan modal menengah ke atas. Sedangkan bagi para pembudidaya yang memiliki modal kecil umumnya masih menggunakan keramba berbahan dasar kayu Untuk mencapai ukuran konsumsi, proses budidaya yang dilakukan 8 – 10 bulan. Dalam waktu pemeliharaan tersebut ukuran ikan kerapu biasanya akan mencapai 600 ‐ 1000 gram Hama dan Penyakit Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA adalah ikan buntal, burung dan penyu. Sedangkan jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) Penyakit akibat serangan parasite seperti : parasite crustacean dan flatworm (b) Penyakit akibat protozoa seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis (c) Penyakit akibat jamur (fungi) seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis (d) Penyakit akibat serangan bakteri (e) Penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus) Sumber : Dinas kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Tenggara

Tuesday, May 26, 2015

Pembenihan Ikan Hias Air Laut Blue Devil (Chrysiptera Cyanea) Hp. 0852.6435.6110 dan 0852.1079.2168




Pembenihan Ikan Hias Air Laut Blue Devil (Chrysiptera Cyanea)


Pendahuluan
 

                Salah satu jenis ikan hias yang cantik dan eksotis di perairan Maluku adalah jenis ikan hias blue devil  (Chrysiptera Cyanea) atau biasa disebut dengan nama local betok ambon. Ciri ciri ikan hias blue devil yang berkelamin betina mempunyai  ekor  berwarna putih dan blue devil yang berkelamin jantan mempunyai ekor  berwarna merah. Walaupun namanya cukup ekstrim, namun ikan ini termasuk ikan hias yang cantik. Tubuhnya langsing dengan warna biru berbintik putih dibagian atas. Ikan ini cukup aktif berenang diantara karang.  Pada saat kondisinya merasa terancam, ikan hias tersebut berubah warna dalam sekejap menjadi biru tua tau biru gelap. Tetapi dalam kondisi yang aman, warna asli dari ikan hias blue devil adalah biru kehijauan

Pengelolaan Induk
®  Pembersihan atau pencucian bak pemeliharaan induk 1 kali dalam 2 bulan atau berdasarkan kondisi baik
®  Induk yang digunakan berjumlah 300 ekor
®  Ukuran induk yang digunakan 5 sampai  7 cm
® Seleksi  induk dilakukan dengan memilih yang sehat, tidak cacat pada sirip maupun ekor, ukuran seragam, gerakan lincah, warna cerah, responsive terhadap pakan serta bebas penyakit
®  Pakan yang diberikan berupa pellet dengan dosis sebesar 3 sampai  5 persen dari total berat tubuh ikan
® Frekuensi pemberian pakan adalah 3 sampai  5 kali sehari dan diberikan pada waktu pagi, siang dan sore hari
®  Bak Induk menggunakan system sirkulasi air, berlangsung 24 jam
®  Bak Induk juga dilakukan kegiatan penyiponan dasar bak
®  Sebagai  tindakan pencegahan , induk blue devil direndam dalam air tawar selama  5 sampai 10 menit
®  Pengecekkan kematangan gonad dilakukan selain secara visual

Penanganan Telur
®  Telur yang telah dibuahi akan ditempatkan  atau menempel pada substrat atau potongan paralon kemudian setelah beberapa hari akan menetas dan larva akan mengapung di permukaan air serta akan terbawa mengikuti aliran air
®  Larva yang mengumpul disudut bak induk akan dipanen pada malam hari dengan selang berukuran  ¾  inci ke bak larva dengan system gravitasi

Pemeliharaan Larva
 ®  Bak yang digunakan untuk kegiatan ini berkapasitas 6 m³ sebanyak 2 buah yang terletak dalam ruangan tertutup. Sebelum bak digunakan, terlebih dulu disterilkan dengan mengunakan kaporit dan  dibilas dengan air tawar
®  Aerasi biasanya menggunakan batu aerasi yang diletakkan dekat di dasar bak larva
®  Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara mempertahankan media pemeliharaan sesuai standard yang telah ditetapkan,  dengan cara  pergantian air, pengaturan suhu  dan kadar garam, penambahan plankton, pembersihan dasar bak, pembersihan permukaan air dalam bak larva

Pendederan
®   Bak dicuci dengan kaporit, setelah itu bak dibilas dengan air tawar dan dikeringkan
®   Air laut yang digunakan untuk pendederan blue devil  disalurkan melalui pipa paralon dari bak penampung ke bak pendederan
®  Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari
® Pakan yang diberikan berupa yang  diberikan beruapa pellet pendederan
®  Pemberian pakan secara adlibitum (sampai kenyang) sebanyak 2 sampai 3 kali sehari
®  Pemilahan ukuran dalam pendederan untuk memisahkan ukuran benih
® Pengelolaan kualitas air dengan penggantian air tota yang dilakukan pada pagi dan sore hari.  Serta sisa pakan yang ada dalam bak dikeluarkan melalui penyiponan, sesudah benih diberi pakan agar kualitas air tetap baik

Sumber :  Balai Budidaya Laut Ambon







Minyak Cumi

Minyak Cumi Merk CUMI 168  mempunyai manfaat antara lain :
1.  Merangsang nafsu makan benur, nener, udang dan ikan
2.  Mempercepat pertumbuhan ikan dan udang
3. Mempersingkat lamanya pemeliharaan udang dan ikan
4.  Menjaga kestabilan air dan plankton saat pergantian air
5.  Menjaga kestabilan air dan plankton saat hujan terus menerus
6.  Dapat digunakan sebagai campuran pembuatan pelet untuk makanan ikan, udang dll

Wednesday, May 20, 2015

Produksi Ikan Bawal Bintang Hp. 0852.6435.6110 dan 0852.1079.2168

Hp. 0852.6435.6110 dan   0852.1079.2168



   Produksi  Ikan Bawal Bintang

Pendahuluan

1.   Ikan Bawal Bintang merupakan ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis Rp 60.000 sampai  Rp 70.000 dalam keadaan hidup. Dalam keadaan segar dengan harga Rp 45.000 sampai dengan Rp.50.000 dan pertubuhannya relative cepat 6 sampai 8 bulan bias mencapai 400 sampai  500 gram per ekor.

2.   Permintaan pasar yang cenderung meningkat, mendorong kegiatan budidaya berkembang
3.   Dengan berkembangnya budidaya ikan bawal bintang, permintaan akan benih siap tebar yang berkualitas terus meningkat dan ketersediannya harus kontinyu
4.   Merupakan Ikan Pelagis yang berenang cepat sehingga dapat dibudidayakan dengan kepadatan tinggi
5.   Penerapan CBIB dapat menjamin keberhasilan dalam pembesaran ikan bawl bintang

Pemeliharaan Induk

1.   Induk dapat dipelihara di Keramba Jaring Apung atau bak beton atau fiber dengan volume minimal 10 meter kubik dengan kepadatan 1 sampai 2 ekor per meter kubik
2.   Ukuran induk lebih dari 1,5 kg per ekor untuk mengetahui jenis kelamin induk dilakukan seleksi tingkat kematangan gonad sebelum dipijahkan
3.   Pematangan gonad dilakukan dengan pemberian pakan ikan segar, cumi secara adlibitum dengan prosentase 2 sampai 3 persen dari Berat Badan dan ditambahkan multivitamin 3 kali seminggu
4. Pemijahan dilakukan pada bak dengan volume lebih dari 10 meter kubik, sebaiknya dengan perbandingan jantan : betina adalah 2, 5 : 1.  Rangsangan pemijahan dengan menggunakan hormone HCG  dengan dua kali penyuntikan dengan dosis 250 IU per kg
5.  Induk memijah pada pukul 19.00 sampai 21.00, telur akan terapung terbawa air dan terkumpul di kolektor air

Pemeliharaan Larva
1.    Pemeliharaan Larva dilakukan di ruangan tertutup dengan menggunakan bak beton atau bak fiber dengan volume 10m3 dengan kepadatan tebar telur sebesar  5 sampai 6 ekor per liter
2.    Pakan diberikan mulai D.2  pagi berupa rotifer dengan kepadatan  1 sampai 2 ind per mil ditingkatkan pada D.5menjadi 3 sampai 4 ind per mil, pakan buatan diberikan mulai D.10 secara adlibitum sesuai ukuran larva, untuk menjaga kestabilan bak pemeliharaan plankton diberikan setiap pagi sebanyak 200 sampai 300 liter sampai D.20
3.    Pergantian air dilakukan mulai D.8 dengan prosentase meningkat sesuai dengan umur dan ukuran ikan
4.    Panen dilakukan pada umur lebih dari 20 hari atau ukuran lebih dari 1.5 Cm

Pendederan 
 1.  Kegiatan  pendederan merupakan tahapan penyiapan benih siap tebar di KJA dari ukuran lebih dari 
      1. 5 cm menjadi lebih dari 5 cm dan sekaligus dijadikan tahap seleksi benih
2.  Penebaran benih dari hasil pemeliharaan larva dengan kapadatan 600 sampai 800  ekor per m3, kepadatan benih disesuaikan dengan ukuran benih
3.  Pakan yang diberikan berupa pellet sinking atau  disebut tenggelam secara perlahan dengan kadar protein lebih dari 42 persen. Diberikan secara adsatiation sampai ikan kenyang dengan frekuensi 5 sampai 6 kali sehari, sebelum pakan diberikan dicampur dengan vitamin C atau multivitamin dengan dosis 5 gram per kg pakan
4. Panen dilakukan setelah ukuran lebih dari  5 cm, sebelum benih ditebar di Keramba Jaring Apung sebaiknya di cek kesehatan ikan di laboratorium

 Pembesaran di Keramba Jaring Apung
 Lokasi budidaya sebaiknya terhindar dari gelombang sepanjang tahun, jauh dari muara sungai, surut terendah lebih dari 9 meter. Bebas dari bahan pencemaran seperti kimia dan logam berat, dekat dengan sarana produksi dan pakan. Salinitas 2€ sampai 35ppt, suhu 27 sampai 29 ℃, DO 3.5 mg per liter. PH 7,6 sampai 8, termasuk dalam rencana tata ruang dan wilayah kabupaten atau kota setempat untuk kegiatan perikanan

Wadah Budidaya

Kegiatan budidaya menggunakan Keramba  Jaring  Apung dengan bahan konstruksi  HDPE atau kayu atau bamboo dengan ukuran 3 x 3 x 3 m dengan jumlah per unit minimal 4 lubang

Penebaran Benih

Benih yang ditebar ukuran lebih dari 4 cm, harus sehat, dibuktikkan surat dari laboratorium dan unggul. Ciri ciri benih unggul adalah sebagai berikut :
1.       Secara morfologis benih normal dan tidak cacat
2.       Pertumbuhan sesuai umur ikan dan ukuran seragam
3.       Benih lincah, responsif terhadap pakan dan gerakan yang diberikan

Sebaiknya penebaran dilakukan pada pagi hari dengan kepadatan  40 sampai  50 ekor per m3

Penebaran Benih

Pakan yang digunakan pellet sinking atau tenggelam secara perlahan dengan kandungan protein lebih dari 42 persen,  ukuran  disesuaikan dengan bukaan  mulut  ikan

Panen

1.       Panen dilakukan apabila sudah mencapai ukuran > 400 gram per ekor atau sesuai permintaan
2.       Pasar bisa dalam keadaan hidup atau fresh
3.       Tingkat kelangsungan hidup atau SR pada pembesaran 85 sampai 90 persen 
4.       FCR = 2 pakan  dengan kandungan protein > 42 %

Sumber : Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok 




Minyak Cumi

Minyak Cumi Merk CUMI 168  mempunyai manfaat antara lain :
1.  Merangsang nafsu makan benur, nener, udang dan ikan
2.  Mempercepat pertumbuhan ikan dan udang
3. Mempersingkat lamanya pemeliharaan udang dan ikan
4.  Menjaga kestabilan air dan plankton saat pergantian air
5.  Menjaga kestabilan air dan plankton saat hujan terus menerus
6.  Dapat digunakan sebagai campuran pembuatan pelet untuk makanan ikan, udang dll